Sudah bertahun – tahun saya mencoba mempelajari Pencak Silat dan Kung fu (Wushu), baik belajar secara langsung, meniru dari film, browsing di internet dan dari berbagai sumber. Namun saya tak pernah bisa menyelesaikannya. Bahkan 7 tahun saya belajar sama guru saya dikampung, tapi nggak pernah ada ujungnya. Saya mencoba mencari jawaban atas keluh kesah saya, namun tak pernah membuahkan hasil. Lalu, sampai kapan saya harus belajar silat? Sebenarnya beladiri tertinggi di dunia itu apa? Apa yg sedang saya pelajari saat ini adalah salahsatu silat tertinggi didunia?
Akhirnya saya menemukan kejenuhan dalam mempelajari ilmu beladiri, saya mulai putus apa. Saya merasa sampai matipun saya tidak akan pernah bisa menyelesaikan pelajaran silat saya. Lalu saya menarik kesimpulan bahwa silat tidak memiliki batasan, silat tidak pernah habis untuk dibahas. Kenapa saya berfikir begitu? Ini penjelasan saya:
1. Setiap gerakan mengandung resiko, entah itu besar atau kecil, yang jelas kita cuma punya dua tangan dan dua kaki untuk menutupi seluruh titik serangan yang ada ditubuh kita, jadi setiap gerakan mengandung resiko.
a. Serangan
Serangan yang kita gunakan untuk menjatuhkan musuh tidak selamanya efektif, malah kesempatan musuh untuk menjatuhkan kita terbuka lebar. Apalagi jika kita menyerang musuh dengan tendangan, terutama tendangan atas. Manusia ibarat kukusan (atau piramid) yang dibalik. apabila hanya bertumpu pada satu kaki, maka akan sangat amat mudah untuk jatuh. Ingat, kaki ibarat pondasi pertahanan kita.
Pukulan juga sama beresikonya, hanya saja lebih ringan. Dari teknik yg saya dapatkan (menurut saya), kita bisa mematahkan lengan musuh ketika musuh memukul, tanpa menggunakan kuncian dan tanpa menangkap tangan musuh, cukup dgn satu gerakan yg sangat simpel.
b. Pertahanan
Pertahanan adalah benteng akhir. Ketika kita tidak mampu lagi untuk menyerang, maka pertahanan menjadi akhir yang menentukan. Perlu diketahui, menangkis pukulan musuh saja kita sudah membuka kesempatan bagi musuh untuk menyerang kita lagi. Ada titik kosong yang tidak dilindungi kita. Contoh, jika kita menangkis dengan tangan kiri, maka daerah ketiak sampai pinggul kiri kita terbuka. Itulah titik kosong yang saya maksud. Kalau kata guru saya, itu disebut sela alias titik kosong/titik serangan pada tubuh lawan.
2. Mungkin anda berfikir kalau kita mengunci musuh, berarti kita sudah menguasai permainan. Faktanya, bisa jadi anda sendiri yang terdesak. Ingat, setiap kuncian punya cara untuk membukanya, setidaknya ada cara untuk mengantisipasi kuncian. Lalu gimana kalau menggunakan kuncian gulat? Bukankah itu tidak bisa dibuka? Ya, ada beberapa yg bisa, adapula yg tidak bisa dibuka. Tapi kita harus ingat, tidak mudah menjatuhkan seorang pesilat yang tingkatan ilmunya sangat tinggi. Pesilat seperti itu sangat licin, layaknya belut putih. Kita mampu menangkapnya hanya apabila ia sudah kelelahan sehingga konsentrasinya mulai buyar.
3. Gerakan silat tak pernah habis. Kita kan diajari bukan menyerang saja, tapi diajari untuk menangkis semua serangan. Jadi gimana mau nyampe ending kalo setiap serangan ditangkis melulu?
Tapi alhamdulillah, saya bisa menyimpulkan satu hal. Silat Indonesia adalah ilmu beladiri yang super komplit. Serangannya sangat terorganisir, tak pernah sekalipun melupakan pertahanan, sekalipun dalam posisi menyerang. Dan beberapa aliran silat Indonesia sangat menghindari hal yang beresiko besar dan hampir menutup seluruh titik lemah pada tubuh kita. Jadi, bisa dibilang kalau Silat Indonesia adalah aliran beladiri yang sangat preventif. Dan perlu diingat, seseorang bisa menjadi preventif hanya apabila ia mempunyai pengalaman yang segudang. Contoh, waktu kita naik motor di suatu gang, tiba – tiba kita terperosok dalam lubang ditengah jalan dan tersungkur. Tentu setelah kejadian itu kita jadi lebih jeli dan menghindari lubang yang sudah membuat kita belaka bukan? Itulah Silat kita, Silat Indonesia. Warisan budaya leluhur yang kaya akan sejuta teknik. Bahkan dulu Indonesia kabarnya sempat menjajah tiongkok waktu zaman kerajaan mataram (mataram apa majapahit ya?) dan Belanda pun butuh waktu beratus – ratus tahun untuk menjajah negara kita. Baru setelah terjadi perang saudara Belanda mulai berani pasang muka. Awalnya sih mereka nggak berani alias pengecut. Cuma bisa mengadu domba aja!
Banggalah menjadi Pesilat Indonesia, jangan hanya bangga menjadi ahli beladiri lain. Udah jelas Silat kita lebih unggul, masa yang dibanggain aliran beladiri negara lain? Ngaco…

About aswiralodra

Hidup selalu penuh perjuangan!

3 responses »

  1. tumpahan says:

    Shaolin Kungfu adalah yg terhebat. Yang sekarang terlihat hanya sebagian kecil dari Shaolin.

  2. aswiralodra says:

    @ Khaerul
    kalau perguruan saya sendiri tertutup, jadi jarang yang tau. Dan tempatnya di Desa Totoran Kec. Pasekan, Indramayu!
    Kalau boleh tau anda sendiri di mana?
    Ini saya kasih nomor saya, barangkali pengen lebih akrab!
    089674931252

  3. khaerul.anam says:

    ‎​ɑ̤̥̈̊к̲̣̣̥ü pingn bngtt blajr bela dri cmn terhalang oleh kerja’n,klo bleh tau letak ♧ȋȋ̊γ̲̣̣̥ÿ̲̣̣̣̥γ̥ɑ̤̥̈̊α̣̣̥α̍̍̊α̇̇̇̊♧ ϑi mnah Indramyu ♧ȋȋ̊γ̲̣̣̥ÿ̲̣̣̣̥γ̥ɑ̤̥̈̊α̣̣̥α̍̍̊α̇̇̇̊♧,tlong ksih tau ♧ȋȋ̊γ̲̣̣̥ÿ̲̣̣̣̥γ̥ɑ̤̥̈̊α̣̣̥α̍̍̊α̇̇̇̊♧

Silahkan Tulis Komentar....!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s